BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Perumusan Masalah
1.3 Batasan Masalah
1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.4.1 Tujuan Penelitian
1.4.2 Manfaat Penelitian
1.5 Hipotesis

BAB 11
LANDASAN TEORI
2.1 Sistem
2.2 pakar
2.3 Sistem Pakar
2.3.1 Ciri-ciri Sistem Pakar
2.3.2 Keuntungan Sistem Pakar
2.3.3 Kelemahan Sistem Pakar
2.3.4 Tujuan Sistem Pakar
2.3.5 Struktur Sistem Pakar
2.4 Inferensi
2.5 Metode Inferensi Dalam Sistem Pakar
2.6 Diagnosis
2.7 Penyakit
2.8 Glaukoma

BAB 111
METODELOGI PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
3.2 Metode Pengumpulan Data

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Semakin berkembangnya gaya ilmu pengetahuan dan teknologi yang pesat dapat membuat orang tertarik untuk menciptakan hal-hal yang baru agar dapat lebih berguna dimasa yang akan datang. Terdapat berbagai macam cara dan upaya yang dilakukan untuk mencapai hal tersebut. Salah satu contohnya adalah penggunaan teknologi computer yang semakin meningkat seiring berkembangnya teknologi pada zaman sekarang ini.
Komputer bukan merupakan hal yang baru bagi pemakainya. Komputer biasanya digunakan untuk berbagai hal seperti mengolah data, melakukan perhitungan matematika,dan lain-lain. Pemanfaatan computer tidak hanya sebatas pengolahan data saja, tetapi juga dimanfaatkan sebagai pemberi solusi terhadap masalah yang diberikan seperti halnya sistem pakar yang sangat bermafaat sekali bagi kita. Salah satu contohnya adalah artificial intelegensia. Menurut (Sri Hartati dan Sri Ismawati.2008). Kecerdasan buatan(Artificial Intelegensia atau AI) didefinisikan sebagai kecerdasan yang ditunjukan oleh suatu entitas buatan. Salah satu cabang dari Artificial Intelegensia adalah sistem pakar.
System pakar adalah perangkat lunak yang didesain khusus berdasarkan artificial intelegence, berfunsi untuk merekam dan menduplikasikan kemampuan pakar. Dengan menggunakan system pakar, pemakai akan diajukan beberapa pertanyaan, kemudian pemakai memasukkan jawaban atau memilih jawaban yang ditampilkan dilayar computer sehingga pemakai dapat menemukan
rekomendaasi atau output yang harus ditempuh pemakai berdasarkan jawaban yang dipilihnya. Sistem pakar tersebut telah melacak solusi atau kesimpulan yang akan ditempuh oleh pemakainya. Pada saat ini system pakar sangat berguna untuk memecahkan masalah yang rumit, mengambil keputusan bahkan berguna untuk mendiagnosa penyakit.
Salah satu penyakit yang masih banyak terjangkit dimasyarakat adalah penyakit mata dengan segala bentuknya. Salah satu jenis penyakit mata yang akan timbul adalah glaukoma. Sebagian besar dari kasus glaukoma banyak terjadi di Indonesia yang tidak diketahui oleh masyarakat. Dari beberapa penelitian para ahli mengatakan bahwa penyakit glaukoma adalah penyebab kebutaan nomor 2 setelah katarak(llyas,2007). Glaukoma biasanya terjadi pada usia lanjut. Kira-kira 1-2 persen orang dewasa diatas 40 tahun akan mudah terserang glaukoma(Knight,2007).
Di Indonesia, glaukoma kurang dikenal oleh masyarakat, padahal cukup banyak yang menjadi buta karenanya. Pada glaukoma kronik dengan sudut bilik mata depan terbuka misalnya, kerusakan pada saraf optik terjadi perlahan-lahan hamper tanpa keluhan subjektif. Hal ini menyebabkan penderita datang terlambat pada dokter. Biasanya kalau sudah memberikan keluhan, keadaan glaukomanya sudah lanjut. Dalam masyarakat yang kesadaran akan kesehatan atau pendidikannya masih kurang, dokter perlu secara aktif dapat menemukan kasus glaukoma kronik, yaitu dengan mengadakan pengukuran tekanan bola mata secara rutin.

Hampir semua kasus glaucoma disebut “glaukoma sudut terbuka” yang menimbulkan gejala agak lambat yang kadang-kadang tidak disadari oleh penderita sampai akhirnya berlanjut dengan kebutaan, dan kira-kira 5 persen kasus lainnya disebabkan oleh “glaukoma sudut tertutup” yang menimbulkan rasa nyeri tiba-tiba, radang mata dan pengeliatan buram. Ini sering memerlukan tindakan operasi darurat dengan pertolongan langsung yang perlu untuk menyelamatkan pengelihatannya. Dari beberapa penelitian menyebutkan bahwa penyakit glaucoma ini seperti penyakit yang tanpa disadari oleh pasien ternyata dapat menyebebkan kebutaan total.
Terjadinya kebutaan pada glaukoma dimulai dengan hilangnya lapang pandangan tepi yang berjalan perlahan-lahan sehingga lapang pandangan menyempit dan berakhir dengan hilangnya seluruh lapang pandangan. Sebelum glaucoma menimbulkan kebutaan menetap, dapat dilakukan pencegahan dengan deteksi dini dan terapi yang dekat. Tekanan bola mata diukur dengan alat yang dinamakan Tonometer. Meningkatnya tekanan bola mata karena banyak cairan didalam bola bisa disebabkan salah satunya karena tubuh yang lemah, karena selain yang disebabkan oleh masalah fisik,penyakit glaukoma juga dipengaruhi oleh kondisi psikologis seperti emosi yang dialami individu.
Berdasarkan uraian sebelumnya, penulis bermaksud untuk melakukan penelitian yang ditujukan kepada kalangan umum agar bisa berkonsultasi melalui media computer sehingga diharapkan akan dapat mengetahui kemungkinan seseorang itu mengidap penyakit glaukoma atau tidak serta mengetahui factor-faktor resiko yang dimiliki orang tersebut. Sistem pakar ini sangat bermanfaat untuk mengetahui lebih jelas mengenai penyakit glaucoma sehingga diharapkan bagi pengguna yang tidak mengetahui masalahnya akan memahami secara rinci mengenai penyakit glaucoma.
Bertitik tolak pada uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian sebagai tugas proposal dengan judul “ Menidentifikasi Penyakit Glaukoma Dan Perawatannya Dengan Menggunakan Sistem Pakar ”

1.2 Perumusan Masalah
Sehubungan dengan latar belakang seperti yang diuraikan sebelumnya,
maka penulis merumuskan permasalahan dalam penelitian yaitu “ Bagaimana membuat system pakar yang berguna sebagai alat bantu untuk mendiagnosa penyakit glaukoma dengan Basis Pengetahuan Yang DInamis”.

1.3 Batasan Masalah
Dengan adanya permasalahan yang dihadapi, maka penulis hanya memberikan batasan permasalahan penyakit pada penyakit glaukoma dengan basis pengetahuan yang dinamis. Contoh : glaukoma primer, glaukoma sekunder, glaukoma kongenital, glaukoma karena kortikosterold, glaukoma absolute.

1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.4.1 Tujuan Penelitian
Sesuai dengan konsep yang ada dan upaya untuk menyelesaikan hasil penelitian maka tujuan dari penelitian ini yaitu untuk membuat system pakar diagnosis pada penyakit glaukoma dengan basis pengetahuan yang dinamis, dimana dapat membantu para penderita glaucoma dalam mendiagnosa penyakit yang menyerang pada mata.
1.4.2 Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat :
a. Memberikan sumbangan kepada tenaga medis sebagai bahan referensi untuk menentukan kemungkinan penyakit glaukoma yang diderita pasien beserta solusinya.
b. Bagi masyarakat umum digunakan sebagai penuntun untuk melakukan tindakan yang harus diambil jika mengetahui seberapa besar kemungkinan menderita penyakit glaukoma.

1.5 Hipotesis
Hasil dari penelitian ini diduga bahwa untuk mendiagnosa penyakit glaucoma dapat digunakan untuk dapat mengetahui seberapa besar terkena penyakit glaukoma.

BAB 11
LANDASAN TEORI

2.1 Sistem
Menurut (Notapozi,2009) system adalah satu himpunan komponen kerja yang saling berkaitan dan bekerjasama untuk mendapatkan alamat himpunan mereka.

2.2 Pakar
Menurut (Hadi Nur,2008) Pakar adalah seseorang yang telah menguasai bidangnya dengan sangat baik sehingga dia dapat memberikan repon yang sangat cepat (kadang kala respon ini muncul tanpa berfikir panjang dan mungkin sekali muncul dari ketidaksadaran ).Jika seseorang mendapatkan “Rangsangan” yang berkaitan dengan bidang yang dikuasainya.
Sebagai contoh seorang Dosen (Pengarah) yang sudah puluhan tahun mengajar “Termodinamika kimia” akan cepat sekali menjawab pertanyaan mahasiswanya (Dengan jawaban yang benar) mengenai bidang yang diajarkannya tanpa kelihatan berfikir keras. Dosen ini dapat digelari pakar dalam bidang “Termodinamika kimia” yang diajarinya.
Menurut (John Durkin,1994),Pakar adalah orang yang memiliki kemampuan atau mengerti dalam menghadapi suatu masalah. Lewat pengalaman seorang pakar mengembangkan kemampuan yang membuatnya dapat memecahkan permasalahan dengan hasil yang baik dan efisien.

Dari pernyataan diatas dapat saya simpulkan Pakar adalah seseorang yang memiliki suatu kemampuan sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya untuk memecahkan suatu permasalahan yang baik dan efisien.

2.3 Sistem Pakar
Menurut (Angel,2010),Sistem Pakar merupakan salah satu bidang dalam kecerdasan buatan memiliki banyak definisi, tetapi pada dasarnya system pakar diterapkan untuk mendukung aktivitas pemecahan masalah.
Menurut (Martin dan Oxman,1988),Sistem Pakar adalah system yang berbasis computer yang menggunakan pengetahuan,fakta,dan teknik penalaran dalam memecahkan masalah yang biasanya dapat diselesaikan oleh seorang pakar dalam bidang tertentu.
Menurut (Ignozio,1991),Sistem Pakar merupakan bidang yang didirikan oleh system berbasis pengetahuan (Knowledge Base System), memungkinkan computer dapat berfikir dan mengambil keputusan dari sekumpulan kaidah.
Menurut (John Durkin,1994),Sistem Pakar adalah program computer yang didesign untuk meniru kemampuan memecahkan masalah dari seorang pakar.
Menurut (Giarratano dan Filey,2005),Sistem Pakar adalah salah satu cabang kecerdasan buatan yang menggunakan pengetahuan-pengetahuan khusus yang dimiliki oleh seorang ahli untuk menyelesaikan suatu masalah tertentu.
Jadi,Secara umum system pakar (Expert System) adalah system yang berusaha mengadopsi pengetahuan manusia kekomputer agar computer tersebut dapat menyelesaikan masalah seperti yang biasa dilakukan para ahli (Pakar). Sistem pakar yang dirancang agar dapat menyelesaikan suatu permaslahan tertentu dengan meniru kerja dari para pakar.
Sistem Pakar mencoba mencari solusi yang memuaskan sebagaimana yang dilakukan seorang pakar dan dapat memberikan penjelasan terhadap langkah yang diambil serta memberikan alasan atau saran atau kesimpulan yang diperoleh. Didalam system pakar terdapat penggabungan antara pengetahuan dan fakta serta mekanisme pengambilan keputusan untuk memecahkan suatu masalah yang biasanya memerlukan keahlian seorang pakar.

2.3.1 Ciri-ciri Sistem Pakar
Ciri-ciri Sistem Pakar adalah sebagai berikut:
1. Memiliki informasi yang handal.
2. Mudah dimodifikasi.
3. Heuristik dalam menggunakan pengetahuan (Yang sering kali tidak sempurna) untuk mendapatkan penyelesaian.
4. Dapat digunakan dalam berbagai jenis computer.
5. Memiliki kemampuan untuk beradaptasi.

2.3.2 Keuntungan Sistem Pakar
Keuntungan Sistem Pakar adalah sebagai berikut :
1. Membuat seorang yang awam dapat bekerja seperti seorang pakar.
2. Dapat bekerja dengan informasi yang tidak lengkap atau tidak pasti.
3. Meningkatkan output dan produktivitas.
4. System pakar dapat bekerja lebih cepat dari manusia.
5. Menyediakan nasihat yang konsisten dan dapat mengurangi tingkat kesalahan
6. Tidak dapat lelah atau bosan, juga konsisten dalam memberikan jawaban dan selalu memberikan perhatian penuh.
7. Memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah yang kompleks.
8. Memungkinkan pemindahan pengetahuan kelokasi yang jauh serta memperluas jangkauan seorang pakar serta dapat diperoleh dan dipakai dimana saja.
9. Mampu beroperasi dalam lingkungan berbahaya.
10. Sebagai alat pelengkap dalam pelatihan

2.3.3 Kelemahan Sistem Pakar
Kelemahan-kelemahan system pakar adalah
1. Masalah dalam mendapatkan pengetahuan dimana pengetahuan tidak selalu bisa didapatkan dengan mudah karena kadang kala pakar dari masalah yang kita buat tidak ada, dan kalau pun ada kadang kala pendekatan yang dimiliki oleh pakar berbeda-beda.
2. Untuk membuat suatu system pakar yang benar-benar berkualitas tinggi sangatlah sulit dan memerlukan biaya yang sangat besar untuk pengembangan dan pemeliharaannya.
3. Boleh jadi system pakar tidak dapat membuat suatu keputusan.
4. System pakar tidak 100% benar.
Kelemahan-kelemahan dari system pakar tesebut bukanlah sama sekali tidak bisa diatasi tetapi dengan terus melakukan perbaikan dan pengolahan berdasarkan pengalaman yang telah ada maka hal itu diyakini akan dapat diatasi,walaupun dalam waktu yang terus menerus.
2.3.4 Tujuan Sistem Pakar
Menurut (Giarratono dan Filey,2005),Tujuan utama system pakar bukan untuk menggantikan kedudukan seorang ahli atau seorang pakar, tetapi hanya untuk memasyarakatkan pengetahuan dan pengalaman dari para pakar. Dengan seiring pertumbuhan populasi manusia, maka dimana yang akan datang system pakar ini diharapkan sangat berguna membantu dalam hal pengambilan keputusan.

2.3.4 Struktur Sistem Pakar
Komponen utama pada struktur system pakar menurut (Hut el al,1987),
meliputi :
1. Basis Pengetahuan (Knowledge Base)
Basis pengetahuan pengetahuan merupakan inti dari suatu system pakar, yaitu berupa representasi pengetahuan dari pakar.Basis pengetahuan tersusun atas fakta dan kaidah. Fakta adalah informasi tentang objek,peristiwa,atau situasi. Kaidah adalah cara untuk membangkitkan suatu fakta baru dari fakta yang sudah diketahui.
2. Mesin Inferensi (Inference Engine)
Mesin inferensi berperan sebagai otak dari system pakar. Mesin inferensi berfungsi untuk memandu proses penalaran terhadap suatu kondisi,berdasarkan pada basis pengetahuanyang tersedia. Didalam mesin inferensi terjadi proses untuk memanipulasi dan mengarahkan kaidah,model,dan fakta yang disimpan dalam rangka mencapai solusi atau kesimpulan. Dalam prosesnya mesin inferensi menggunakan strategi penalaran dan strategi pengendalian.
3. Basis Data (Data Base)
Basis data terdiri atas semua fakta yang diperlukan dimana fakta-fakta tersebut digunakan untuk memenuhi kondisi dari kaidah-kaidah dalam system. Basis data menyimpan semua fakta-fakta yang diperoleh pada saat penarikan kesimpulan sedang dilaksanakan . Basis data digunakan untuk menyimpan data hasil observasi dan data lain yang dibutuhkan selama pemrosesan.
4. Antarmuka Pemakai (User Interface)
Fasilitas ini digunakan sebagai perantara komunikasi antara pemakai dan komputer.

2.4 Inferensi
Menurut (Kosriri,2006), inferensi merupakan proses untuk menghasilkan informasi dari fakta yang diketahui atau diasumsikan. Inferensi adalah konklusi logis (Logical Conslusion) atau implementasi berdasarkan informasi yang tersedia.
Menurut (Febriansyah,2008), inferensi adalah kemampuan menarik kesimpulan berdasarkan pengalaman. Dalam system pakar, proses inferensi dilakukan dalam suatu modul yang disebut inference engine ( Mesin Inferensi ). Mesin inferensi bertugas melakukan proses inferensi.
Dari pengertian yang diatas dapat disimpulkan bahwa inferensi adalah suatu proses untuk menghasilkan informasi dari fakta yang diketahui atau diasumsikan kemudian dari fakta tersebut ditarik dari kesimpulan berdasarkan pengalaman yang ada.

2.5 Metode Inferensi Dalam Sistem Pakar
Menurut (Febriansyah,2008), ada 2 cara yang dapat dikerjakan dalam melakukan inferensi yaitu :
1. Penalaran Maju (Forward Chaiming)
Pencocokan fakta atau pernyataan dimulai dari bagian sebelah kiri ( IF dulu kemudian THEN ).
2. Penalaran Mundur ( Backward Chaiming)
Pencocokan fakta atau pernyataan dimulai dari bagian sebelah kanan ( THEN dulu kemudian IF ).

2.6 Diagnosis
Menurut (Webster,2007),Diagnosis adalah proses menentukan hakekat dari pada kelalaian atau ketidakmampuan dengan ujian dan melalui ujian tersebut dilakukan suatu penelitian yang hati-hati terhadap fakta-fakta untuk menentukan masalahnya.
Menurut (Hariman,2008), Diagnosis adalah suatu analisis terhadap kelainan kelainan atau salah penyesuaian dari simptom-simptomnya.
Dari penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa diagnosis adalah suatu cara menganalisis suatu kelainan dengan mengamati gejala-gejala yang Nampak dan dari gejala tersebut dicari factor penyebab kelainan tadi.

2.7 Penyakit
Menurut (Ibrahim,2008), Penyakit adalah suatu keadaan abnormal dari tubuh atau pikiran yang menyebabkan ketidaknyamanan,disfungsi atau kesukaran terhadap orang dipengaruhinya, orang-orang biasa berkonsultasi dengan seorang dokter.
Menurut (Lukhas,2009),Penyakit adalah keadaan tidak normal pada badan atau minda yang menyebabkan ketodakselarasan,disfunsi,atau tekanan/stress kepada orang yang terbabit atau berhubungan rapat dengannya.Kadang istilah ini digunakan secara umum untuk menerangkan kecerderaan,kecacatan,sindrom, symptom,keserangan tingkah laku,dan variasi biasa sesuatu struktur atau fungsi.Penyakit ini boleh disebabkan oleh kuman, bakteria, virus, racun, kegagalan organ berfunsi, dan juga oleh penyakit baka/keturunan.

2.8 Glaukoma
Glaukoma adalah suatu penyakit dimana tekanan didalam bola mata meningkat, sehingga terjadi kerusakan pada saraf optikal dan menyebabkan penurunan fungsi penglihatan.
Terdapat 4 macam Glaukoma:
1. Glaukoma Sudut Terbuka
Pada glaukoma sudut terbuka,saluran tempat mengalirnya humor Aqueus terbuka, tetapi cairan dari bilik anterior mengalir terlalu lambat. Secara bertahap tekanan akan meningkat (Hampir selalu pada kedua mata) dan menyebabkan kerusakan saraf optikus serta penurunan funsi penglihatan yang progresif. Hilangnya fungsi penglihatan dimulai pada lapang pandang dan jika tidak diobati pada akhirnya akan menjalar keseluruh bagian lapang pandang, menyebabkan kebutaan.Glaukoma sudut terbuka sering terjadi setelah usia 35 tahun, tetapi kadang terjadi pada anak-anak.Penyakit ini cenderung diturunkan dan paling sering ditemukan pada penderita diabetes atau myopia.Glaukoma sudut terbuka lebih sering terjadi dan biasanya penyakit ini lebih berat jika diderita oleh orang kulit hitam.Pada awalnya,peningkatan tekanan didalam mata tidak menimbulkan gejala.
Lama-lama akan timbul gejala berupa:
a. Penyempitan lapang pandang tepi
b. Sakit kepala ringan
c. Gangguan penglihatan yang tidak jelas
d. Glaukoma sudut terbuka mungkin baru menimbulkan gejala setelah terjadinya kerusakan yang tidak dapat diperbaiki.
2. Glaukoma Sudut Tertutup
Glaukoma sudut tertutup terjadi jika saluran tempat mengalirnya humor aqueus terhalang oleh iris. Setiap hal yang menyebabkan pelebaran pupil (Misalnya cahaya redup, tetes mata, pelebaran pupil yang digunakan untuk pemeriksaan mata atau obat tertentu) bisa menyebabkan penyumbatan aliran cairan karena terhalang oleh iris.
Iris bisa menggeser kedepan secara tiba-tiba menutup saluran humor aqueus sehingga terjadi peningkatan tekanan didalam mata secara mendadak. Serangan bisa dipicu oleh pemakaian tetes mata yang melebarkan pupil atau bisa juga timbul tanpa adanya pemicu.
Glaukoma akut lebih sering terjadi pada malam hari karena pupil secara alami akan melebar dibawah cahaya yang redup.Episode akut dari glaukoma sudut tertutup menyebabkan :
a. Penurunan fungsi penglihatan ringan
b. Terbentuknya lingkaran berwarna disekeliling cahaya
c. Nyeri pada mata dan cahaya
Gejala tersebut berlangsung hanya beberapa jam sebelum terjadinya serangan lebih lanjut. Serangan lanjutan menyebabkan hilangnya fungsi penglihatan secara mendadak dan nyeri mata yang berdenyut, penderita juga mengalami mual dan muntah, kelopak mata membengkak, mata berair dan merah. Setiap serangan susulan akan semakin mengurangi lapang pandang penderita.
3. Glaukoma Sekunder
Glaukoma sekunder terjadi jika mata mengalami kerusakan akibat yang ditimbulkan berupa :
a. Infeksi
b. Peradangan
c. Tumor
d. Katarak yang meluas
e. Perangkat mata yang mempengaruhi penaliran humor aqueus dari bilik anterior
Penyebab yang paling sering ditemukan adalah uveitis.Penyebab lainnya adalah penyumbatan vena of laimikus,cedera mata, juga bisa menyebabkan peningkatan tekanan intraakuler.

4. Glaukoma Kengenitalis
Glaukoma kengenitalis sudah ada sejak lahir dan terjadi akibat gangguan pengembangan pada saluran humor aqueus. Glaukoma kengenitalis seringkali diturunkan.

BAB 111
METODELOGI PENELITIAN

3.1 Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilakukan dimulai pada bulan juli 2009 sampai dengan
Agustus 2009 bertempat di Rumah Sakit Khusus Mata Masyarakat Provinsi
Sumatra Selatan.

3.2 Metode Pengumpulan Data
Menurut (Arhami,2005) untuk mendapatkan data dan informasi ada beberapa metode dalam pengumpulan data dalam proses basis penngetahuan. Pengetahuan diperoleh dari pakar, dilengkapi dengan buku, laporan penelitian dan pengalaman pemakai. Menurut Turban dalam (Arhami, 2005), ada beberapa metode dalam pengumpulan data salah satunya yaitu dengan cara wawancara. Disini metode yang digunakan dalam proses pengumpulan data yang akan digunakan penulis adalah sebagai berikut :
a. Metode Studi Pustaka
Merupakan metode yang dilakukan dengan cara mencari bahan yang mendukung dalam pendelisian masalah melalui buku-buku yang erat kaitannya dengan objek permasalahanya.
b. Metode Wawancara
Merupakan metode yang dilakukan dengan cara melakukan diskusi serta Tanya jawab dengan sumber yang dianggap memiliki pengetahuan lebih mengenai permasalahan yang dijadikan objek penelitian. Dalam metode wawancara ini penelitian melakukan Tanya jawab kepada salah satu seorang ahli penyakit mata yaitu Dr.H.Ak.Ansyori,SpM,M.Kes,Dr.Samsul dan Dr.Edison Lubis,SpM. Adapun alasan peneliti bertanya jawab dengan sumber tersebut yang diberikan benar-benar akurat. Alat bantu yang peneliti gunakan dalam wawancara ini yaitu alat bantu berupa alat tulis untuk mencatat hasil wawancara.
Wawancara yang dilakukan peneliti yaitu menggunsksn metode wawancara semi terstruktur, maksudnya adalah topic dan tema sudah ditentukan sebelumnyayaitu berdasarkan indikator yang ingin diteliti namun rumusan pertanyaan tidak baku, disesuaikan dengan situasi dan keadaan yang dihadapi.

3.3 Metode Pengembangan Sistem
Metode pengembangan pada proposal ini adalah model waterfall, model ini mengusulkan sebuah pendekatan kepada perkembangan software yang sistematik dan sekunsial yang mulai pada tingkat dan kemajuan sistem pada seluruh analisis, desain, kode, pengujian, dan pemeliharaan.

1. System Engineering :
Seseorang yang mampu memilih alat bantu yang baik dalam perencanaan maupun dalam penerapan perangkat lunak dan memiliki teknik yang baik untuk menilai kualitas dari perangkat lunak yang dihasilkan, serta mampu mengkoordinasikan, mengontrol, dan mengatur pelaksanaan pekerjaan pembuatan perangkat lunak.

2. Analisis :
Menganalisis hal-hal yang diperlukan untuk pembuatan atau pengembangan perangkat lunak.

3. Design :
Merupakan tahap penerjemah dari keperluan atau data yang telah dianalisis ke dalam bentuk yang mudah dimengerti oleh programmer.

4. Coding :
Menerjemahkan data yang telah dirancang / algoritma kedalam bahasa pemrograman yang telah ditentukan.

5. Testing :
Tahap penguji coba terhadap program yang telah dibuat.

Daftar Pustaka
1. M. Firdaus Ikhsan,Universitas Bina Darma
2. (http://erihadiyana.wordpress.com/2008/11/03/sistem pakar/).
3. Durkin, J ,1994, Expert System Design And Development, Prentice_Hall Internasional, New Jersey
4. Giarratano, J , & Filey, G ,2005,Expert System : Principles And Programming,4th Edition, Pws Publishing Company, Boston
5. Ignizio, J.P, 1991, Introduction To Expert System : The Devolopment And Implementation Of Rule Based Expert Systems, Mc Graw_Hill, Inc, New York
6. Martin, J, & Oxman, S ,1988 “Building Expert System a Tutorial”, Prentice Hall, New Jersey

2 responses »

  1. Elbert Plecker mengatakan:

    I just want to mention I’m beginner to blogging and site-building and definitely loved this web site. Almost certainly I’m likely to bookmark your site . You surely have fantastic article content. Thanks for sharing your website page.

  2. white whall mengatakan:

    The Slave of the Husband

    Seeking forward to researching extra from you afterward!…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s