A.HADIS DITINJAU DARI SEGI KUANTITASNYA

 

Ulama berbeda pendapat tentang pembagian hadis ditinjau dari segi kuantitasnya .maksuda tinjau dari segi kuantitas adalah dengan menyelusuri jumlah para perawi yang menjadi sumber adanya suatu hadis.para ahli ada yang mengelompokkan menjadi tiga bagian,yakni hadis mutawatir,masyhur dan ahad;dan ada juga yang membaginya hanya menjadi dua,yakni hadis mutawatir dan ahad.

Pendapat pertama,yang menjadikan hadis masyhur berdiri sendiri,tidak termasuk pembagian hadis ahad,dianut oleh sebagian ulama usul,diantaranya adalah Abu Bakar Al- jassas( 305 370H) sedangkan ulama golongan kedua diikuti oleh kebanyakan ulama usul dan ulama kalam.menurut mereka,hadis masyhur bukan merupakan hadis yang berdiri sendiri ,akan tetapi hanya bagian dari hadis ahad.mereka membagi hadis menjadi dua bagian,mutawatir dan ahad.[1]

 

1.Hadis Mutawatir

a.Ta’rif Hadis Mutawatir

kata mutawatir, menurut lugat ialah “mutatabi” yang berarti beriringan atau berturut-turut antara satu dengan yang lain.

Sedangkan menurut istilah ialah:

suatu hasil hadis tanggapan pancaindra,yang diriwirayatkan oleh sejumlah besar rawi,yang menurut kebiasanmustahil mereka berkumpul dan bersepakat untuk berdusta

 

Hadis yang tidak dapat dikategorikan dalam hadis mutawatir,yaitu segala berita yang diwirayatkan dengan tidak bersandar pada pancaindra ,seperti meriwayatkantentang sifat-sifatmanusia,baik yang baik maupun yang tercela,juga segala berta yang diwirayatkan oleh orang banyak,tetapi mereka berkumpuluntuk bersepakatmengadakanberita-berita secara dusta.

Hadis yang dapat dijadikan pegangan dasar hukum suatu perbuatan haruslah diyakini kebenarannya.karena kita tidak mendengarhadis itu langsung dari Nabi SAW.maka jalan penyampaian  hadis itu harus  dapat memberikan keyakinan tentang kebenaran hadis tersebut.

Dalam sejarah para perawi diketahui bagaimana cara perawi menerima dan menyampaikan hadis ada yang melihat atau mendengar,ada pula yang dengan tidak melalui perantaraan pancaindera,misalnya dengan lafaz diberitakan dan sebagainya.disamping itu, dapat diketahui pula banyakatau sedikitnya orang yang meriwayatkan hadis itu.

Apabila jumlah yang meriwayatkan demikian banyak yang secara mudah dapat diketahui bahwa sekian banyakperawi itu tidak mungkin bersepakat untuk berdusta,maka penyampain itu adalah secara mutawatir.[2]

 

SYARAT-SYARAT HADIS MUTAWATIR

1.      Diwirayatkan oleh jumlah yang banyak

2.      Jumlah yang banyak ini berada pada semua tingkatan(thabaqat)sana

3.      Menurut kebiasaan tidak mungkin mereka bersekongkol bersepakat untuk gerdusta

4.      Sandaran hadis merekadengan menggunakan indera seperti perkataan mereka,pendengaran dan penglihatan dll.[3]

Hadis mutawatir ini memberikan informasi yang pasti(qatb’i al-tsubut)sama seperti Al-quran dan merupakan tingkatan hadis yang tinggi,wajib diamalkan orang yang mengingkari hadis ini dianggap kafir.Hadis mutawtir terbagi kepada tiga bagian:

1.      Mutawatir lafzi: yaitu suatu hadis yang diwirayatkan oleh banyak orang sejak dari awal sampai akhirnya dimana masing-masing perawi meriwayatkannya dengan lafaz yang sama.para ahli memberi contoh hadis mutawatir lafzi adalah:”siapa saja yang berdusta atas namaku,maka bersiaplah untuk masuk neraka”

2.      Mutawatir maknawi: yaitu hadis mutawatir yang berlainan bunyi lafaznya,tetapi kembali kepada makna yang sama.contoha mutawatir maknawi adalah:Hadis –hadis mengenai syafa’at Nabi muhammad saw,mengenai melihat tuhan,keluarnya air dari sela-sela jari Nabi,mengenai nabi mengangkat tangan ketika berdoa dan sebagainya.

3.      Mutawatir ‘amali:yaitu ajaran-ajaran agama yang diketahui elah mutawatir dengan mudah dan telah mutawatir dalam kalangan islam,bahwa nabi ada mengerjakan atau menyuruhnya,seperti berita atau hadis tentang waktu sholat dan bilangan raka’atnya.

Muhammad ‘Ajaj al-khatib mengatakan bahwa hadis mutawatir tidak banyak dibahas pada ilmu hadis,tetapi ulama  usul fiqih mencoba untuk menjelaskan secara agar rinci dalam pembahasannya.hal itu mungkin disebabkan karena mutwatir tidak termasuk dalam pembahasan ilmu sanad yang membahas tentang sahih atau lemahnya suatu hadis,pembahasan sifat-sifat perawi hadis,boleh diamalkan suatu hadis atau tidak.sedangkan hadis mutawatir wajib diamalkan tampameneliti kembali sifat-sifat perawinya.yang perlu diperhatikandalam hal ini adalah apakah orang yangmeriwayatkan cukup banyak atau tidak,mungkah merekaberduta atau tidak,sebab dengan banyak orang yang meriwayatkan hadis tersebut.

2.HADIS MASYHUR

hadis masyhur adalah hadis yang diwirayatkan oleh sejumlah perawi dari kalangan sahabat,jumlahnya tidak sampai pada jumlah perawi  hadis mutawatir,lalu generasi setelah sahabat,hadis itu menjadi mutawatir.ini  adalah defenisi hadis masyhur menurut  ulama usul fiqih.dalam hal ini yang menekananya adalah bilangan perawinya tidak sampai sebanyak hadis mutawatir,akhirnya mengubah posisinya dalam pembagian kuat sanad.

Sedangkan ulama hadis mendefenisikan bahwa hadis masyhur adalah hadis yang diwirayatkan oleh 3 orang perawi  atau lebih dan tidak sampai pada tingkat mutawatir.

Hadis ini dinamakan masyhur karena sudah jelasnya dan tersebarnya dikalagan tertentu.oleh sebab itu ada sebagin fuqaha yang menyebut hadis ini dengen nama al-mustahidh(yang melimpah atau tersebar). Sebagian ulama membedakan antara masyhur dan mustahidh ini,Hadis mustahidh adalah hadis yang diwirayatkan oleh 3 orang pada generasi awal dan akhir,sedangkan masyhur lebih umum dari itu ,yaitu diwiratkan oleh 3  orang atau lebih pada tingkatan generasi  mana saja.

Contoh hadis masyhur yang lemah(dha’if)yang biasa dipakai oleh kelompok sufi.

“Akudulunya adalah harta yang tersembunyi,lalu aku ingin dikenal,maka aku ciptakanlah makhluk dan melalui aku mereka kenal kepada ku “

Ibnu taimiah mengatakan bahwa hadis ini sama sekali bukanlah perkataan nabi muhammad saw,tidak ada yang doif sanatnya ,.pendapat ini diperkuat oleh imam Zarqasyi dan ibnu hajar.sayangnya mereka yang mengaku rasionalis dan hanya mau mengunakan hadis mutawatir saja. ternyata dalam bukunya  tedapat hadis da’if ini sebenarnya bukan hadis Nabi.[4]

 

 

 

3.HADIS AHAD

Hadis yang diwirayatkan oleh satu atau dua perawi ataupun lebih,yang tidak memenuhi syarat-syarat hadis masyhur maupun mutawatir.dan tak diperhitungkanlagi jumlah perawinya setelah itu.[5]

Hadis ahad ini wajib diamalkan bila memenuhi syarat-syrat diterimanya suatu hadis,seperti sanadnya berhubungan(tidak terputus),diwira

Yatkan oleh perawi yang adil dan kuat ingatannya,tidak terdapat cacat atau mengganjil dari perawi  yang lain yang lebih terpecaya(lebih kuat).

Hadis  ahad juga dibagi dari sudut pandangan diterima atau ditolaknya kepada dua bagian yaitu:

1.       Hadis maqbul

Yaitu hadis yang dapat diterima bila memenuhi syarat-syarat yang lebih ditentukan oleh ulama hadis.

2.       Hadis mardut

Yaitu hadis yang tidak memenuhi syarat-syarat diterimanya  suatu hadis,oleh sebab itu hadis ini ditolak.

Pembagian hadis ini hanya berlaku  pada selain hadis mutawatir,karena hadis mutawatir seluruhnya dapat  diterima dan tidak ada yang ditolak.oleh karna itu,penerimaan atau penolakan sebuah hadis tersebut terposisikan pada hadis ahad.dengan kata lain,hadis ahad tersebutlah yang terbagi pada diterima atau ditolaknya suatu hadis.[6]

 

 

 

B. Pembagian Hadist Shahih, Hasan dan Dhoif

1.Hadist Shahih

a)      Pengertian

Shahih menurut bahasa adalah lawan dari sakit. Ini adalah makna hakiki pada jasmani. Sedangkan dalam penggunaannya pada hadist dan makna-makna lain, ini adalah makna yang  majazi.

Shahih menurut istilah ilmu hadist adalah: ” satu hadist yang sanadnya  bersambung dari permulaan sampai akhir, disampaikan oleh orang-orang yang adil, memiliki kemampuan menghafal yang baik dan sempurna (dhabith), serta tidak ada penyelisihan dengan perawi yang lebih terpercaya darinya dan tidak ada ilat yang berat.”

Dari definisi ini jelaslah bahwa ada 5 syarat wajib dalam hadist shahih,yaitu:

1.      Sanadnya bersambung, yaitu setiap perawi telah mengambil suatu hadist secara  langsung dari gurunya mulai dari permulaan sampai akhir sanad.

2.      Para perawinya adil, yaitu  setiap perawi haruslah seorang muslim yang beragama lurus, baligh, berakal, tidak fasik, dan berperangai baik. [7] Arti Adil dalam periwayatan, seorang rawi harus memenuhi 4 syarat untuk dinilai adil, yaitu :

  • Selalu memelihara perbuatan taat dan menjahui perbuatan maksiat
    • Menjauhi dosa-dosa kecil yang dapat menodai agama dan sopan santun.
    • Tidak melakukan perkara-perkara Mubah yang dapat menggugurkan iman kepada kadar dan mengakibatkan penyesalan.
    • Tidak mengikuti pendapat salah satu madzhab yang bertentangan dengan dasar Syara’.

 

3.      Dhabth yang sempurna, yaitu setiap perawi harus sempurna hafalannya.

Dhabth terbagi 2, yaitu:

Ø  Dhabth shard, adalah bila seorang perawi benar-benar hafal hadist yang telah didengarnya dan mampu mengungkapkan kapan saja.

Ø  Dhabth kitab, Adalah bila seorang perawi “menjaga” hadist yang telah dibacanya dalam bentuk tulisan.

4.      tidak ada syuhzudz (syadz). Yang dimaksud dengan syuhzudz yaitu, jika seorang perawi tidak menyelisihi perawi yang lebih tsiqah darinya.

5.      tidak ada ilat yang berat, yaitu hadist tersebut tidak boleh ada cacat. Illat adalah suatu sebab yang tersembunyi yang dapat merusak status keshahihan hadist meskipun zhahirnya tidak nampak ada cacat.

Jika salah satu dari lima syarat tersebut tidak terpenuhi, maka ia tidak dapat dinamakan sebagai sebagai hadist shahih.

b)      Pembagian hadist shahih

Hadist shahih terbagi menjadi 2 bagian, yaitu:

1.      Shahih Li Zdatihi, adalah hadist shahih yang telah memenuhi syarat-syarat secara maksimal.

2.      Shahih Li Ghairihi, adalah hadist shahih yang tidak memenuhi syarat secara maksimal.[8]

Karya-Karya yang Hanya Memuat Hadist Shahih:

Beberapa karya yang memuat hadist shahih antara lain:

1. Shahih Bukhari

Para ulama sepakat bahwa Imam Bukhari adalah seorang periwayat hadist-hadist shahih. Hal tersebut  dikarenakan Beliau telah memenuhi syarat-syarat wajib sebagai periwayat hadist. Dalam belajar ilmu hadist, Imam Bukhari, beliau belajar dari banyak guru di berbagai daerah, seperti Baghdat, Basyrah, Kuffah, Makkah, Syam,Himsh, ‘Asqlan dan Mesir. Dari ratusan ribu hadistyang dihafalnya, beliau kemudian menyeleksi mana hadist yang shahih dan mana hadist yang tidak shahih.

Contoh hadist Shahih Bukhari

َوَعَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه عَنِ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ اَلنَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا, أَدَّى اَللَّهُ عَنْهُ, وَمَنْ أَخَذَهَا يُرِيدُ إِتْلَافَهَا, أَتْلَفَهُ اَللَّهُ )  رَوَاهُ اَلْبُخَارِيُّ

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa mengambil harta orang dengan maksud mengembalikannya, maka Allah akan menolongnya untuk dapat mengembalikannya; dan barangsiapa mengambilnya dengan maksud menghabiskannya, maka Allah akan merusaknya.” Riwayat Bukhari

 

2. Shahih Imam Muslim

Seperti halnya Imam Bukhari, Imam Muslim juga merupakan seorang periwayat hadist yang tidak diragukan lagi keshahihan hadist karyanya. Karena beliau juga telah memenuhi syarat wajib sebagai perawi hadist

Contoh hadist Shahih Muslim:

َوَعَنْ أَبِي سَعِيدٍ اَلْخُدْرِيِّ رضي الله عنه ( أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم رَأَى فِي أَصْحَابِهِ تَأَخُّرًا. فَقَالَ: تَقَدَّمُوا فَائْتَمُّوا بِي, وَلْيَأْتَمَّ بِكُمْ مَنْ بَعْدَكُمْ” )  رَوَاهُ مُسْلِم ٌ

Dari Abu Said Al-Khudry Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam melihat para sahabatnya mundur ke belakang. Maka beliau bersabda: “Majulah kalian dan ikutilah aku, dan hendaknya orang-orang di belakangmu mengikuti kalian.” Riwayat Muslim

َ

1.Hadist hasan

a.       pengertian

Hadist Hasan menurut bahasa artinya baik dan bagus.

Sedangkan menurut istilah hadist yang sanadnya bersambung dari permulaan sampai akhir, diceritakan oleh orang-orang yang adil, kurang dhabthnya, serta tidak  ada  syuhzudz dan ilat yang berat[9]

Hadist hasan tebagi 2 yaitu:

1.      hasan Li Ghairihi, yaitu hadist yang dhoif yang dikuatkan dengan beberapa jalan.bukan karena kefasikan penulisnya.

2.              Hasan Li Dzatihi, yaituhadist ahad yang di riwayatkan oleh rawi yang adillagi sempurna kedhabithtannya, tanpa syad dan ilat.

Kekuatan hukum hadist hasan sama seperti hadist shahih dalam pemakaiannya sebagai hujjah, walau kekuatannya lebih rendah di bawah hadist shahih

Contoh hadist Hasan

وَعَنِ اِبْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا, عَنِ اَلنَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( لَيْسَ عَلَى اَلنِّسَاءِ حَلْقٌ, وَإِنَّمَا يُقَصِّرْنَ )  رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ بِإِسْنَادٍ حَسَ

Dari Ibnu Abbas Radliyallaahu ‘anhu bahwa Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Tidak ada kewajiban mencukur bagi perempuan, namun mereka cukup memendekkannya.” Riwayat Abu Dawud dengan sanad hasan [10]

 

SYARAT-AYARAT HADIS HASAN

o   Para perawinya adil

o   Kedhabitan para perawinya dibawah perawi hadis shahih

o   Sanadnya bersambung

o   Tidak menggandung keganjalan pada  matan

o   Tidak ada cacat atau ilat

 

2. Hadits Dho’if

a.       pengertian

Hadist Dha’if menurut bahasa artinya lemah. Sedangkan menurut istilah hadist dh’if adalah hadist yang tidak menghimpun sifat-sifat hadist shahih maupun sadist hasan., dengan kata lain hadist tersebut kehilangan salah satu syarat atau lebih dari syarat-syarat hadist shahih maupun hadist hasan.

Sedangkandalam buku karangan DR. Nurudin ITR, mendefinisikan bahwa hadist dha’if adalah hadist yang kehilangan salah satu syarat sebagai hadist maqbul.[11]

Klasifikasi hadits Dhoif berdasarkan sifat matannya

  • Hadits Mauquf: adalah hadits yang hanya disandarkan kepada sahabat saja, baik yang disandarkan itu perkataan atau perbuatan dan baik sanadnya bersambung atau terputus.
  • Hadits Maqthu’: adalah perkataan atau perbuatan yang berasal dari seorang tabi’in serta di mauqufkan padanya, baik sanadnya bersambung atau tidak.

Klasifikasi Hadits Dhoif berdasarkan kecacatan perawinya

  • Hadits Maudhu’: adalah hadits yang diciptakan oleh seorang pendusta yang ciptaan itu mereka katakan bahwa itu adalah sabda Nabi SAW, baik hal itu disengaja maupun tidak.
  • Hadits Matruk: adalah hadits yang menyendiri dalam periwayatan, yang diriwayatkan oleh orang yang dituduh dusta dalam perhaditsan.
  • Hadits Munkar: adalah hadits yang menyendiri dalam periwayatan, yang diriwayatkan oleh orang yang banyak kesalahannya, banyak kelengahannya atau jelas kefasiqkannya yang bukan karena dusta. Di dalam satu jurusan jika ada hadits yang diriwayatkan oleh dua hadits lemah yang berlawanan, misal yang satu lemah sanadnya, sedang yang satunya lagi lebih lemah sanadnya, maka yang lemah sanadnya dinamakan hadits Ma’ruf dan yang lebih lemah dinamakan hadits Munkar.
  • Hadits Mu’allal (Ma’lul, Mu’all): adalah hadits yang tampaknya baik, namun setelah diadakan suatu penelitian dan penyelidikan ternyata ada cacatnya. Hal ini terjadi karena salah sangka dari rawinya dengan menganggap bahwa sanadnya bersambung, padahal tidak. Hal ini hanya bisa diketahui oleh orang-orang yang ahli hadits.
  • Hadits Mudraj (saduran): adalah hadits yang disadur dengan sesuatu yang bukan hadits atas perkiraan bahwa saduran itu termasuk hadits.
  • Hadits Maqlub: adalah hadits yang terjadi mukhalafah (menyalahi hadits lain), disebabkan mendahului atau mengakhirkan.
  • Hadits Mudltharrib: adalah hadits yang menyalahi dengan hadits lain terjadi dengan pergantian pada satu segi yang saling dapat bertahan, dengan tidak ada yang dapat ditarjihkan (dikumpulkan).
  • Hadits Muharraf: adalah hadits yang menyalahi hadits lain terjadi disebabkan karena perubahan Syakal kata, dengan masih tetapnya bentuk tulisannya.
  • Hadits Mushahhaf: adalah hadits yang mukhalafahnya karena perubahan titik kata, sedang bentuk tulisannya tidak berubah.
  • Hadits Mubham: adalah hadits yang didalam matan atau sanadnya terdapat seorang rawi yang tidak dijelaskan apakah ia laki-laki atau perempuan.
  • Hadits Syadz (kejanggalan): adalah hadits yang diriwayatkan oleh seorang yang makbul (tsiqah) menyalahi riwayat yang lebih rajih, lantaran mempunyai kelebihan kedlabithan atau banyaknya sanad atau lain sebagainya, dari segi pentarjihan.
  • Hadits Mukhtalith: adalah hadits yang rawinya buruk hafalannya, disebabkan sudah lanjut usia, tertimpa bahaya, terbakar atau hilang kitab-kitabnya.

 

Klasifikasi hadits Dhoif berdasarkan gugurnya rawi

  • Hadits Muallaq: adalah hadits yang gugur (inqitha’) rawinya seorang atau lebih dari awal sanad.
  • Hadits Mursal: adalah hadits yang gugur dari akhir sanadnya, seseorang setelah tabi’in.
  • Hadits Mudallas: adalah hadits yang diriwayatkan menurut cara yang diperkirakan, bahwa hadits itu tiada bernoda. Rawi yang berbuat demikian disebut Mudallis.
  • Hadits Munqathi’: adalah hadits yang gugur rawinya sebelum sahabat, disatu tempat, atau gugur dua orang pada dua tempat dalam keadaan tidak berturut-turut.
  • Hadits Mu’dlal: adalah hadits yang gugur rawi-rawinya, dua orang atau lebih berturut turut, baik sahabat bersama tabi’in, tabi’in bersama tabi’it

 

Apakah Boleh Berhujjah dengan hadits Dhoif ?

Para ulama sepakat melarang meriwayatkan hadits dhoif yang maudhu’ tanpa menyebutkan kemaudhu’annya. Adapun kalau hadits dhoif itu bukan hadits maudhu’ maka diperselisihkan tentang boleh atau tidaknya diriwayatkan untuk berhujjah. Berikut ini pendapat yang ada yaitu:

Pendapat Pertama Melarang secara mutlak meriwayatkan segala macam hadits dhoif, baik untuk menetapkan hukum, maupun untuk memberi sugesti amalan utama. Pendapat ini dipertahankan oleh Abu Bakar Ibnul ‘Araby.

Pendapat Kedua Membolehkan, kendatipun dengan melepas sanadnya dan tanpa menerangkan sebab-sebab kelemahannya, untuk memberi sugesti, menerangkan keutamaan amal (fadla’ilul a’mal  dan cerita-cerita, bukan untuk menetapkan hukum-hukum syariat, seperti halal dan haram, dan bukan untuk menetapkan aqidah-aqidah).

Para imam seperti Ahmad bin hambal, Abdullah bin al Mubarak berkata: “Apabila kami meriwayatkan hadits tentang halal, haram dan hukum-hukum, kami perkeras sanadnya dan kami kritik rawi-rawinya. Tetapi bila kami meriwayatkan tentang keutamaan, pahala dan siksa kami permudah dan kami perlunak rawi-rawinya.”

Karena itu, Ibnu Hajar Al Asqalany termasuk ahli hadits yang membolehkan berhujjah dengan hadits dhoif untuk fadla’ilul amal. Ia memberikan 3 syarat dalam hal meriwayatkan hadits dhoif, yaitu:

1.      Hadits dhoif itu tidak keterlaluan. Oleh karena itu, untuk hadits-hadits dhoif yang disebabkan rawinya pendusta, tertuduh dusta, dan banyak salah, tidak dapat dibuat hujjah kendatipun untuk fadla’ilul amal.

2.      Dasar amal yang ditunjuk oleh hadits dhoif tersebut, masih dibawah satu dasar yang dibenarkan oleh hadits yang dapat diamalkan (shahih dan hasan)

3.      Dalam mengamalkannya tidak mengitikadkan atau menekankan bahwa hadits tersebut benar-benar bersumber kepada nabi, tetapi tujuan mengamalkannya hanya semata mata untuk ikhtiyath (hati-hati) belaka.[12]

 

 

 

 

 

 


[1] Drs. Munzier Suparta M.A, Ilmu Hadis,(Jakarta:PT RAJAGRAFINDO PERSADA,2006), hlm.95.

[2] Drs.H.Muhammad Ahmad-Drs.M.Mudzakir,ulumul Hadis,(Bandung:CV PUSTAKA SETIA,2000)Hlm.66..

[3] Syaikh manna’ AL- qathan,studi ilmu hadis, (jakarta timur:PUSTAKA AL-KAUTHAR,2005)H.110

[4] Drs.zainimal Mag,ulumul hadis,(the minang kabau foundation padang 2005)h.119-123

[5] Dr.muhammad ‘ajaj Al-khathib,(gaya media partama jakarta 1998)h.273.

[6] Drs.zainimal Mag,ulumul hadis,(the minang kabau foundation padang 2005)h.130

[7] Syaik manna’al-qatan,pengantar studi ilmu hadis,(pustaka alkauthar,2005.)h.117

 

[8] Dr.muhammad ‘ajaj Al-khatib,ushul hadist.gaya media partama Jakarta 1998)h.277

 

[9] Syaik manna’ Al-qatan,pengantar studi  ilmu hadis ,(pustaka Al-kauthar, Jakarta 2005)h.121

[10] Alhafizd imam ibnu hajar al-asqalany, bulughul maram versi 2.0,pustaka sk -hidayah Tasikmalaya, 1429 H

[11] DR. Nurudin ITR, Ulmul Hadist II, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya) h. 51

[12]Al Hafizd Imam Ibnu Hafar Al-Qalany, Bulughul Maram min Adillati Ahkam versi 2.0, Tasikmalaya. 1429 H

5 responses »

  1. Godaddy Coupons mengatakan:

    I found your blog site on google and examine a few of your early posts. Continue to keep up the excellent operate. I simply extra up your RSS feed to my MSN Information Reader. Seeking ahead to reading more from you in a while!…

  2. Johnny Wonderling mengatakan:

    Mr. Elliott,
    Letters via USPS sounds so novel in the internet age even if it is just one letter produced for many, but it surely doesn’t sound like a pen-pal relationship. Can one particular write back towards the author with the letter?

  3. Marine Schilk mengatakan:

    I simply want to say I’m very new to weblog and seriously loved your website. Almost certainly I’m want to bookmark your site . You surely come with very good stories. Bless you for revealing your web page.

  4. white whall mengatakan:

    The Ships’s Voyages

    I feel know-how just causes it to be even worse. Now there is a channel to in no way care, now there will not likely become a chance for them to find.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s