Cinta, benda abstrak namun konkret. Rasa yang membuat manusia merasakan beribu perasaan. Kata yang sering terlafal oleh sang bibir mungil dan elok. Tapi, apakah selamanya cinta itu ada ? Senantiasakah abadi ? Bagaimana cercahan kebahagian dari sang cinta ? Bagaimana duri penyakit oleh cinta ?  Bagaimana dengan cinta yang flat ?

kembali4

Anis, remaja galau yang terus berkonfrontasi terhadap hatinya. Pertanyaan yang tak penting, namun berarti.

“Siapa yang sungguh menyayangiku ? Diakah sang pacar ? Sosok baru yang membanjiri hati ? Teman Lama yang membuat berdebar ? Ataukah engkau , wahai motor merah ?”

Aku tak yakin, galau adalah penyakit. Namun, ia terus beranak-pinak di dalam diri manusia. “Kapan galau itu akan terselesaikan ?”

Hati bergejolak, lagu-lagu masa kini menangisi suasana kebimbangan hati. Aku merasa lirik-lirik itu menjinakan suasana lirih yang terus berusaha merajai.

Beginilah aku, sendiri telah menjadi aktivitasku.  Angin ialah sahabatku. Ruang hampa adalah favoritku. Aku terus menatap anak danau di ujung mataku.

Kondisi sepi semakin memekakan inderaku. Setapak demi setapak terus terdengar, semakin terdengar. Suara kaki itu semakin jelas terdengar. Hembusan nafas terasa. dan tepat berada di belakangku.

“Anis.”

Aku tak menoleh, aku terus berpura-pura mendengar alunan yang membosankan di telingaku. Headphone putih  kosong tak bersuara.

“Anis.”

Suara lelaki yang telah baligh terdengar lagi. Aku pun menoleh. Sang pacar yang telah terlupakan hadir di bola mataku.

“Ressa..?”

“Maaf, anis. Aku tak bermaksud…”

“Tak mengapa.” Aku pun memotong kata yang akan terlontar.

“Aku bisa mengerti. Aku yang tak berpengalaman dalam asmara. No problem, ressa.”

“Semoga kamu dapat yang lebih dari aku.”

Thanks, ressa.” Jawabku tak asyik.

“Lebih baik begini, semua jelas.” Tambahku.

Ressa melangkah jauh, teramat jauh. Ia pun hilang. Aku tak merasa kehilangan, namun mempertanyakan perasaan yang tak tentu.

“Ivankah ? Apakah memang ivan ? Ataukah Jeje ?” Tanya hatiku.

Ivan, ‘si motor merah’. Sosok pendatang baru di hatiku. Dia pemerhati wanita, penuh peduli. Jeje, teman lama, namun aku tak sangat yakin pada hatiku tentangnya.

“Ataukah dia ? Pengisi hati ?”

Teman 2 tahunku. Ya, dia pengisi hati, pembuat hati berasa. Dialah amir.

Lamunan telah mengisi beberapa jam hari ini, hingga bising motor ivan pun tak terdengar.

“Anis. Hemmm, termenung..termenung lagi.” Canda Ivan.

Sorry, ivan. Kapan datang ?”

“Baru aja sampe. Ayo, mau kemana kita ?”

“Aku lagi bete, males kemana-mana. Disini aja ya ?” Jawabku letih.

“Kamu kenapa ? Mikiri pacar ? Lupain aja!”

“Bukan, aku bingung dengan hati, cinta.”

“Cinta kok dibikin bingung ? Udah, having fun aja. Cinta itu bagai daun di 4 musim, adakalanya ia bermekaran, mendaatkan situasi panas, atau sejuk akibat kedinginan, atau bahkan gugur ketika memang harus gugur. Jadi, jangan menoleh lagi. Lihat aku! Percaya padaku.”

Mata ivan sangat berbicara, namun aku tak mampu pada hatinya.

“Haruskah aku kembali ? Ataukah memberikan hati pada sosok lain ?” Senyumku menghina dalam hati.

About rumah radhen

a girl| 03021994 | palembang, indonesia|

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s