Adakah rindu di hatimu
Seperti rindu yg kurasa
Sanggupkah kuterus terlena
Tanpamu di sisiku
Kukan selalu menantimu

Lirik itu pun bersenandung di telingaku. Dibenakku terbalut dirinya, dadaku tersesak merindukan lafal namanya. Aku benar-benar merasa jatuh dalam dirinya. Seringku bertanya pada diriku sendiri, “Apakah aku jatuh cinta ?”

Bila seseorang jatuh cinta, ia merasa bahagia. Alunan kasmaran yang bersenada. Namun, tak selaras denganku. Aku jatuh cinta dalam kejatuhan hati yang paling jatuh. Aku tak tahu, manis yang semestinya aku cicipi malah terasa asam ginjal yang menyebar ke seluruh tubuhku.

“Apakah aku takut jatuh cinta ?” Tanyaku.

Sedih mengiris luka, itu yang terasa. Aku ingin lari dari rasa ini. Pergi menghilangkan jejak, namun hati ini selangkah dengan raga ini.

Semakin aku mendengar musik pesimis cinta, aku semakin jatuh.

“Aku ingin ia tahu yang kurasa !” Hatiku menentang bibirku.

Jiwaku pun berdemonstrasi di lapangan diri yang kosong. Memanaskan suasana hati yang bimbang. Membangunkan fikiran yang menangis.

“Dia ? Dia siapa ? Hanya seorang mahasiswa yang tak kuasa pada materi penghafalan. Si ‘Leher Jerapah’. Mengapa harus dia ?” adrenalinku pun meningkat.

Yah, aku terus berperang dengan hati yang ingin cinta.

“Kamu mau bicara tentang apa ?” Ia bertanya padaku.

“Hah ?” aku termenung dalam ucapannya. “Apakah aku harus berucap salam cinta padanya ?” Tanya hatiku.

Seiring detik berlalu, pertanyaan itu pun menuntun. Aku dan Nunu pun beralih ke tempat lain, toko buku.

Nunu menemaniku mencari novel yang menjadi sasaranku pada nuansa itu. Alhasil, aku pun mendapatkannya.

‘Atas Dasar Iman, Kumencintaimu’, judul novel itu.

Aku sangat terngiang pada masa itu, dimana hujan mengiringi waktu kami untuk bertemu. Entah mengapa, ia tetap menghampiriku. Aku merasa, ia punya harap yang sama, namun apakah itu sebuah jebakan cinta semata ? Hanya ia yang mampu menjawabnya.

Dua bulan berlalu, ia mulai menghilang. Entah, apakah rasa itu turut bersama dirinya yang tenggelam dalam kerak bumi atau semakin timbul pada permukaan bumi.Ketika ku menerka itu cinta, aku pun dipatahkan oleh cinta. Ia telah berdua. Tragis !

Aku pun mencoba melenyapkan bayang cinta yang semakin nyata. Hingga akhirnya, ia mempublikasi sosok idamannya. Aku hanya terdiam sambil tertawa dalam diri.

“Reaksi berlebih, tak sepatutnya aku wujudkan menjadi nyata.” Bisik batinku.

Ketika itu, aku merasa dibuali olehnya. Ia mencoba menaklukanku dalam peluknya, namun aku dapat membaca dirinya pada parasnya. Kecewa ? Pasti. Namun mencoba tenang dalam kondisi deru ombak yang semakin tinggi. Mencoba menaklukkan arus jeram yang haus akan mangsa. Seketika bisu pada bibir.

“Terasa bicara pada orang yang tak memiliki telinga.” Ucap diriku pada batinku.

About rumah radhen

a girl| 03021994 | palembang, indonesia|

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s