Handphone-ku berbunyi, ku hampiri Hp-ku, dan ku lihat Aldi memanggil.

          <“Assalamu’alaikum Wr. Wb. Bisa bicara dengan indri ?”> Suara nakalnya yang menggodaku dengan ‘r’ serak-serak.

“Wa’alaikumsalam wr. wb. Yee, mulai deh. Ada apa, Aldi ?” Tanyaku kegirangan dalam diri.

          <“Ehm.. Tugas pascal sudah selesai ?” >

“Sudah, Al. Kan kemarin sudah di copy ke flashdisk Helena.” Jawabku.

          <“Ehm.. Sudah makan ?” >

“Belum.”

< “Kenapa belum ?”> Tanya ia.

“Biasa makannya jam 1, abis dari kampus langsung makan. Jadi dibiasain. Tumben nelpon.” Candaku.

<“Oh.. Begitu. Kenapa ? Nggak boleh ya ?”>

“Boleh. Aneh aja. Kita kan jarang smsan, di kampus pun nggak banyak ngobrol.”

Aku dan Aldi pun terus berbincang. Tidak terasa waktu dhuhur pun tiba, kami pun menghentikan percakapan kami.

Aldi, ia orang yang muslim banget. Dia membimbingku untuk menjadi lebih baik, meski kami tidak banyak berkomunikasi, tapi ia selalu memantauku. Itu yang aku suka dari dia.

Waktu berlalu seiring dengan perputaran rotasi bumi. Mentari pun mulai meyengat manusia.

“Indri !” Teriak seorang gadis.

Aku pun menoleh ke sumber suara itu. Gadis itu ialah Helena, teman karibku. Dia orang yang bersahaja, elok tabiatnya. Ia sangat menyukai warna yang lembut. Ia selalu memakai pakaian yang berwarna seperti itu, ia kurang menyukai warna yang cerah.

“Hei, Helena. Ada apa ?” Tanyaku.

“Reki.. Reki kecelakaan.” Jawabnya terbatah-batah.

“Hah ! Dia sudah dibawa ke rumah sakit ?” Tanyaku terkejut dengan penuh kekhawatiran.

“Sudah, ndri. Dia dibawa ke rumah sakit Raden Perwira.”

Aku dan Helena pun bergegas ke lokasi tempat Reki dirawat. Sesampai disana, aku melihat Reki tergeletak diatas kasur ruang gawat inap.

“Reki.” Lafasku.

“Kamu, Indri. Kenapa kamu bisa ke sini ?” Tanyanya lembut.

“Aku tahu dari Helena. Kamu sudah agak baikan ?”

“Kamu khawatir ?”

“Tentu saja. Kamu temanku, sahabatku. Aku takkan membiarkanmu sendiri dalam komamu.” Jawabku.

“Teman, sahabat ? cuma temen ?’ Resahnya dengan wajah kalut.

“Iya, sahabat.” Jawabku pelan.

“Apakah tindakan kita ini bisa disebut hanya sebagai temen ?” Tanya Reki menatapku tajam.

“Kamu sedang sakit, kamu harus banyak istirahat.” Palingku.

“Aku suka sama kamu, Ndri.” Ucap Reki dengan lembut.

Kalimat itu membisukan situasi. Aku tak berani berucap dan Reki pun terdiam. Semua hening seketika.

Aku ingin pergi meninggalkan posisiku, tapi Reki sedang sakit. Kondisi ini tidak memungkinkan untuk membahas persoalan ini. Aku pun sudah dimiliki Aldi, dan ucapan kasih Reki itu membuat hatiku bergetar.

“Haruskah aku meninggalkan ia ? Aku tidak tahu harus mengatakan apapun pada Reki. Apakah Aku pun suka padanya ?” Tanya hatiku.

“Reki, kamu tidak apa-apa, kan ?” Tanya Helena yang datang tiba-tiba.

Kehadiran Helena memecahkan diamnya kondisi waktu yang terhening itu.

“Aku baik, Helena.” Jawabnya pelan.

“Untung kamu tidak apa-apa, aku sangat khawatirkan kamu.” Lanjut Helena.

Reki hanya tersenyum pada Helena, dan kembali melirikku. Itu membuatku sungguh terasa canggung. Entah mengapa ? Aku jadi tak banyak bicara semenjak Reki mengatakan itu. Aku hanya mendengarkan percakapan antara Reki dan Helena, pabila pun aku ditanya, aku hanya mengangguk dan tersenyum.

About rumah radhen

a girl| 03021994 | palembang, indonesia|

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s