“Nggak sms, nggak nelpon, ngobrol apalagi.” Keluh kesahku pada Aldi.

Pria datar yang baru jatuh hati. Entah mengapa, ia terkadang membuatku kasmaran disetiap langkah kakinya. Membuatku terpedaya akan kharisma cerdasnya.

Pasir putih yang melekat di sekat hati. Mengindahkan iringan merdu kasih yang bergelombang. Rasa yang kurasa padanya, bukanlah percikan kobaran cinta sejenak.

“Lagi, apa aku mesti memulainya ?” Fikirku.

Aku pun mengambil handphone-ku dan bergegas aku menuliskan pesan cinta untuknya.

Ia pun merespon pesanku. Tak seperti yang ku harap.

“Aku kan penganut ta’aruf.” Balasnya.

“Menyebalkan ! Apa memang begini rasanya orang berpasangan ? Aku berstatus pacaran lho sama dia, tapi kok begini pola jalannya ?”  Geramku membara.

Aku pun menghela nafas cukup panjang, melupakan, meniadakan pesan geram itu.

Esok pun tiba, mentari menatapku begitu semangat. Hangatnya merasuk rusukku, menenangkan fikiran kusam. Ia melintas di hadapanku, memandangku penuh ombak asmara. Aku pun meliriknya.

“Dia tuh..” Rana, temanku menggoda.

“Apa sih ? Biasa aja kale.” Desahku kesal mengingat pesan kemarin.

“Mau konsul ? Biar deket gitu.” Candanya.

“Nggak ah, dia lagi nggak asyik.”

“Ntar nyesel lho.” Tangkasnya.

“Biarin.”

Aldi mendekat, semakin dekat. Ia pun duduk disisiku. Dia hanya diam, terpaksa aku yang memulai pembicaraan.

“Aku sudah punya pacar, tapi kalo diliat, nggak keliatan dan kalo didenger, nggak kedengeran. Gimana kalo aku bosen ?” Sindirku penuh amarah.

Dia hanya diam dan tersenyum.

“Bener-bener nggak care ! Huuft !”. Cambukku dalam hati.

Haruskah aku lari dari kenyataan ini

Lelahku mencoba ‘tuk sembunyi

Namun senyummu tetap mengikuti

Alunan iwan fals itu membuatku resah tak resah.

“Marah tapi cinta. Ia selalu mencoba menarik perasaanku.”

Status aku dan Aldi tak seorangpun menciumnya. Hingga membuat bayangan hitam menghampiriku. Ia ialah Reki, teman manis yang tersedia bersamaku.

“Kenapa aku nggak pacaran dengannya saja ? Main serong ? Ke kanan atau ke kiri ?” Tawa hati kecilku.

Orang umum menduga bahwa aku dan Reki adalah dua sejoli yang turut meramaikan kancah percintaan.

Tak disangka, gerakanku terbaca oleh pandangan Aldi. Tak terbesit dibenakku, ia cemburu.

“Aku berasa jatuh hati, bener-bener jatuh hati.” Sambutku saat Aldi sinis padaku.

“Aneh ! ” Lirih Rana.

“Apa yang aneh, Rana ?” Tanya Reki.

“Nggak, nggak ada, ki.” Jawab Rana beralih.

Cantik bulan pun berganti terik surya. Ketika itu pula perputaran asmara bergelora.

“Apa sih mau kamu ? Hening ? Sudah aku lakuin.  Nggak Seluruh orang tau tentang kita.” Darahku bergerumuh.

“Kamu jenuh ?” Halusnya.

“Kita berbincang sangat minim. Tapi, kamu masih begitu. Kalo kamu nggak mau berkomunikasi di depan publik, seenggaknya kan bisa lewat Hp.” Lanjutku.

“Kalo kamu terus begini, aku nggak akan betah. Kamu tau kan, tanggal 16 kita udah jalan, sekarang tanggal 20, masih aja begitu.” Tambahku.

“Kamu mesti sabar menunggu. Memangnya kalo cinta mesti dipajang di muka umum ? Cukup kita yang tahu.” Nasehatinya.

“Kita cukup dewasa untuk mengatasi konflik seperti ini.” Keluhnya.

Aku hanya diam dan terdiam. Aku merasa bumbu kasmaran cukup tak sedap, menjengkelkan. Aku berfikir keras mengenai dongeng nasehat itu. Aku sadar, aku hanya seorang pemula yang ingin terjun ke ranah pantai cinta. Demi rasa dan demi dia, aku mencoba bertahan diatas kemelut cinta pertama sang pemula.

About rumah radhen

a girl| 03021994 | palembang, indonesia|

2 responses »

  1. muhammad huna mengatakan:

    Bagus…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s