Lelaki yang sebaya denganku itu terus menatap langit-langit rumah. Entah, indahkah ? Dengan berseragamkan putih bergaris putus-putus berwarna hitam, ia terus melakukannya. Ada seorang gadis yang terus menatapnya, memperhatikan kelakuannya itu. Siapa lagi gadis itu kalau bukan aku. Aku yang berdiri di kejauhan, mencoba melintas dihadapan lekaki itu. Lelaki itu tak peka akan kehadiranku di sekitarnya. Ia terus menatap langit-langit itu.

Aku pun menepuk pundaknya dan berkata, “Begitu indahkah langit-langit itu sehingga membuat kamu tak berasa bila aku menghampirimu ?”

“Iya, sepertinya langit-langit itu telah menyita semua perhatianku. Membuatku terbuai akan kecantikkannya.” Jawabnya sambil tersenyum ke arahku.

“Oh, begitukah ? Melihatmu begitu asyik menatapnnya. Kapan kamu kembali ke kota ini ? Mengapa tak mengabarkan aku?” Tanyaku padanya dengan penuh rasa penasaran yang menggentayangi fikiranku.

“Baru saja. Iya, aku baru sampai beberapa jam yang lalu. Sorry, aku tak sempat mengabarkanku, tapi sekarang kita kan sudah ketemu, jadi aku tak perlu mengabarimu lagi.” Candanya.

Lelaki yang berbincang denganku itu ialah Danie, Danie Prasetyo. Sosok teman yang sangat karib. Ia juga merupakan orang pertama yang membuatku merasakan perasaan lain di  hati. Ya, Danie. Lelaki yang akan menjadi teman sekampusku. Putih, tinggi semampai, bersumpipi, meskipun ia bukan keturunan ningrat, ia adalah tipe orang yang menjunjung tinggi kesopanan dan tata krama.

Setelah pertemuan singkat itu terjadi, keesok harinya, aku melihat ia memakai seragam yang sama denganku, bahagianya bisa bertemu setiap saat, setiap detik dengannya. Langkah kaki, gaya berseragam, gaya bersikap, begitu sempurna.

“Hei, by. Ruang kelas 1. IB itu dimana yah ?” Tanya ia sambil menatapku dan menghampiriku.

Aku gemetar dan grogi saat ia menatap mataku, aku merasa ia masuk ke mataku dan meluncur ke hatiku.

“Kamu 1. IB ? Ehm, berarti kamu sekelas denganku.” jawabku pura-pura baru mengetahui dengan hati yang bersorak-sorai.

“Bagus itu, mari kita masuk.” Tangkasnya.

Aku dan Danie pun masuk ke dalam kelas, kami pun duduk berseberangan. Dosen pun hadir, dan memulai mengabsen mahasiswa/i-nya.

Tak disangka, Widi, salah satu teman kelasku ikut menyukainya. Aduh, ada rival nih. Widi itu orang super gak asyik. Dia seringkali di cap sebagai leher jerapah, tikus buku, bahkan yang lebih parah lagi ialah cacing teknologi. Bener-bener ancur deh orangnya.

Semenjak ada Danie disampingku, Widi selalu bersikap manis terhadapku, padahal kemanisan, bikin jadi muaal bangeet. Dia selalu dan selalu ingin diperhatiin sama Danie, padahal Danie gak suka diperlakuin kayak gitu. Tabiatnya itu sempat bikin Danie ngeluapin emosinya, dia hanya terbengong aja, kayak ayam yang ngelamun.

Yah, namanya juga umat manusia, kalo digituin di depan umum pasti malu. “Aduh, mukanya mau di kemanain ?” Seruku didalam hati.

“Ia sih, terlalu terpukau akan pesona danie.” Lirihku menyesalkan sikapnya.

Hingga akhirnya, widi gak suka sama sikap danie yang dianggapnya keterlaluan banget, jadi dalam hitungan hari, widi pun ketangkap basah punya rencana mau ngebales danie.

“Gue mau, si danie itu diberi perhitungan. Siapa sih yang gak sakit hati diperlakuin gitu di muka umum ? Abis, malu abis gue !” Widi ngerasa nyesek banget.

Untung aja ada titak, temen gue. Dia gak sengaja terdenger kalimat itu. Titak pun langsung ngadu ke gue dan danie. Kami bertiga pun sepakat untuk pura-pura gak tau.

Esoknya, dongeng dari titak itu pun terfakta.

“Eh Loe, Dan. Loe fikir tampang itu segalanya, Loe bisa mempermaluin gue di muka umum ? Loe salah, Dan. Loe fikir, gue cinta tergeletak sama loe ? Ini punya loe, kan ? Gak nyangka gue, kalo suka beginian ! Lekong banget loe ! HAHAHA ” Ejek Widi sambil pegang kotak hias bernuansa feminin yang bertuliskan Danie Prasetyo.

“Loe nyuri punya gue ? Loe ngubrak-abrik loker gue ? Kepok banget loe ? Kalo suka sama gue, gak perlu segitunya donk !” Sahut Danie penuh semangat emosi.

“Loe beraninya sama cewek sih. Cowok macam apaan Loe ?” Teriak Widi.

Semua orang pun berkerumun mendekati lokasi kami. Aku mengalami kesulitan untuk menghentikan debat keras itu, semua gara-gara genk TCa, genk Widi yang gak jelas asalnya.

Situasi yang terus semakin mencekam ini, akhirnya meredah ketika Danie melabrak Widi. Danie pun pergi meninggalkan Widi.

Aku yang terus memperhatikan sikap Danie yang trempamen itu, terbesit di benakku “Danie bukanlah tipikal yang aku mau. Dia tak bisa menganggunkan wanita. Tak mampu menjaga hati wanita.”

Yah, meskipun itu bukanlah biang dari Danie, setidaknya Danie bisa lebih bijak untuk memperlakukan wanita. Dan apabila aku menoleh lagi, mengenang masa pertalihan dengan Danie, sekarang ini adalah bukan Danie yang dulu. Ia sekarang bagai cokelat menuju hitam.

About rumah radhen

a girl| 03021994 | palembang, indonesia|

3 responses »

  1. kasih tau ga ya mengatakan:

    Pengalamankah? xD

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s