HDR Gubuk Tua (FN)

Sengatan matahari sangat terasa di permukaan kulit, tampak sebuah gubuk tua tak jauh dari kediamanku. Gubuk tua yang tak berpenghuni, begitu rapuh, dan nyaris roboh. Banyak dongeng-dongeng dari masyarakat sekitar mengenai gubuk tua itu.

Dikala sang surya terbit dari ufuk timur, Pak Mukhlis, sapaan si penghuni , berangkat mencari nafkah untuk mendapatkan segenggam beras. Ia bekerja sebagai pedagang asongan di salah satu pasar tradisional di kota Palembang. Istrinya, Bu Romlah berprofesi hanya sebagai ibu rumah tangga. Meski pernikahannya telah berusia puluhan tahun, mereka tak jua mendapatkan momongan.
“Dek, Abang berangkat, Dek.”
Bu Romlah membisu, tak melontarkan sepatah kata pun. Pak Mukhlis berangkat bekerja. Tak jauh Pak Mukhlis melangkahkan kakinya dari sudut rumah, mulut Bu Romlah berkomat-kamit.
“Terserah, mau bertindak apa. Tetap saja sama, miskin.”

Petang tiba, Pak Mukhlis pulang. Tiba di rumah, terjadi kontravensi antara Pak Mukhlis dan istrinya.
“Untuk apa kamu bekerja? Memangnya jika kamu bekerja hidup kita akan tentram, enak?”
“Dek, saya bekerja saja hidup kita seperti ini, apalagi bila saya tak berpencaharian sama sekali. Mau makan apa kita, Dek? Makan dengan lauk tahu-tempe saja sudah sangat bersyukur.”
Tok….. tok….. tok…… Daun pintu berbunyi. Pak Mukhlis pun melenyapkan emosinya dan membuka daun pintu.
“Eh, Pak Yusuf. Ada apa, Pak?”
“Maaf, Pak. Saya bertamu waktu menjelang maghrib. Ini ada makanan kecil, syukuran anak saya baru lahir.” Pak yusuf mengulurkan kantong kecil dari tangannya.
“Tak usah terima. Mentang-mentang keluarga Pak yusuf mampu jadi hendak mengolok-olok keluarga saya. Dengan alasan baru dapat momongan pula.” Bu Romlah memalingkan wajahnya.
“Bukan maksud saya mau memamerkan. Tetapi ini sudah kaul saya.” Jelas Pak Yusuf.
“Dek, kaul Pak Yusuf itu baik. Niatnya baik, Dek. Terima saja, apalagi malam ini kita tak ada lauk untuk disantap.” Pak Mukhlis menganjurkan.
“Pokoknya saya tidak mau terima. Jika kamu terima, maka tak segan-segan saya lempar keluar.” Intonasi Bu Romlah semakin tinggi.
Pak Mukhlis pun tak mampu mengeluarkan sebuah kata lagi. Pak yusuf pun pulang dan membawa kembali makanan kecilnya. Adzan maghrib berkumandang, Pak Mukhlis bersiap berangkat ke masjid, depan rumahnya.
“Sholat.. Sholat. Memangnya sholat bisa buat kita banyak uang?”
Pak Mukhlis tak menghiraukan celotehan istrinya. Ia pun bergegas pergi ke masjid. Setelah sholat magrib usai, Pak Mukhlis pun melangkahkan kaki ke rumah.

Tok… Tok… Tok… “Dek, buka pintu, Dek.”
Tak ada jawaban dari tengah rumah. Pak mukhlis mencoba menggedor pintu.
Tok…. Tok… Tok…. “Dek, buka pintu, Dek.” Pak Mukhlis melantangkan suaranya.
“Tak usah teriak-teriak. Malu sama tetangga.” Buka Bu Romlah.
“Harus sabar nian menghadapi kamu, Dek.” Pak Mukhlis menggelengkan kepalanya.
“Sabar…Sabar. Lelah saya jadi istri kamu! Dari dulu sampai sekarang begini-begini saja.”
“Istighfar, Dek.”
Bu Romlah tak dapat menahan gejolak dalam dirinya. Ia pun membanting semua barang yang ada di sekitarnya. Pak Mukhlis yang melihat tindakan Bu Romlah pun tak dapat membendung emosi Bu Romlah.
“Apa yang kamu lakukan?”
“Sudahlah. Saya jenuh hidup denganmu. Kamu selalu acuhkan mauku.”
“Bagaimana bisa kaya jika kamu hidup tak pernah bersyukur dengan apa yang telah diberikan oleh Tuhan.”
“Naif kamu, Bang.”

Bu Romlah mencoba mengambil cambuk dari kamarnya. Seluruh permukaan rumah disabet oleh Bu Romlah. Pak Mukhlis mencoba mengambil campuk dari genggaman istrinya, akan tetapi Pak Mukhlis pun tersabet oleh Bu Romlah. Pak Mukhlis pun tergeletak. Tetangga yang mendengar suara heboh dari dalam kediaman Pak Mukhlis pun mencoba mencari tahu apa yang terjadi. Sangat disayangkan, tak seorangpun yang berani memastikankannya.
Bu Romlah yang melihat suaminya tergeletak di lantai rumah, segera mencari bala bantuan.
“Pak Yusuf, suami saya pingsan tersabet cambuk, Pak.” Beritahu Bu Romlah dengan wajah kalut.
“Yang lain, tolong bantu saya menggotong Pak Mukhlis.”
Tak disangka nyawa Pak Mukhlis tak tertolong. Ketika Pak Yusuf hendak memberitakan kematian Pak Mukhlis, Bu Romlah tak ada lagi di rumahnya. Entah kemana, tak ada yang mengetahui keberadaannya.

Setelah saya mendengar dongeng itu dari Pak Yusuf, saya baru menyadari. Dongeng nakal, maupun dongeng emas terlontar dari mulut masyarakat sekitar. Meskipun peristiwa itu telah terjadi beberapa tahun yang lalu, akan tetapi jika melintasi gubuk itu, masyarakat selalu melirik sampai kedalaman gubuk itu. Entah apa yang hendak di lihat. Hanya mereka yang tahu.

About rumah radhen

a girl| 03021994 | palembang, indonesia|

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s